Teks oleh Ursula Natali Langouran
Foto oleh Osta Segara
“Bagi saya, tato itu seperti politik, sikap politik atas kekuasaan saya penuh atas tubuh saya.”
Beberapa waktu lalu, Alphabeta Journal berkesempatan untuk berbincang-bincang ringan dengan Rahung Nasution. Film dokumenternya yang berjudul “Kembali Merajah Mentawai” akhir tahun lalu diputar dalam Festival Film Dokumenter 2011 dan mendapat sambutan hangat di kalangan penonton.
Bicara Rahung tidak hanya bicara tentang tato. Pandangannya terhadap tato tidak sesederhana seperti membicarakan estetika dan seni. Tato adalah medium pergerakan politik dan tato adalah artefak kehidupan sekelompok masyarakat (tradisi). Setelah bersama beberapa kawannya membangun Taring Padi, sebuah perkumpulan seni kolektif di Yogyakarta, ia berangkat menuju Timor Leste dan bekerja di sebuah media bernama Tali Takum. Tahun 2006, ia kembali ke Indonesia dan melanjutkan pekerjaannya sebagai freelance videomaker. Sebelum “Kembali Merajah Mentawai”, pada tahun 2004 ia sempat membuat “Tasi Timor”, sebuah film dokumenter tentang protes atas okupasi Australia atas Laut Timor dan eksploitasi atas cadangan minyak yang terkandung di dalamnya.
Apa sih latar belakang “Kembali Merajah Mentawai”?
Ketika itu Durga baru kembali ke Indonesia dari Amerika Serikat. Sementara itu, saya kembali dari Timor Leste, tempat saya tinggal selama enam tahun. Kami, yang sudah lama saling mengenal dan kebetulan memiliki ketertarikan yang sama atas tato, kemudian bertemu lagi. Saat itu, Durga, yang pernah belajar tato tradisional dengan salah satu maestro tato Samoa, sudah menjadi tattoo artist. Dan keluarlah ide itu, “Bagaimana kalau kita ke Mentawai?”. Pembuatan film tidak terpikirkan pada saat itu.
Modal kami nekat, tidak ada funding. Dana kami sangat terbatas. Bekalnya kami tentang Mentawai pun hanya pengetahuan sekilas yang kami dapatkan dari internet dan buku. Siberut di sebelah mana pun kami tidak paham. Jadi meraba-raba aja.
Kemudian kami memutuskan untuk pergi ke Padang, mencari dosen antropologi yang sering melakukan penelitian di Pulau Siberut. Kami ke Andalas dan bertemu Sri Setiawati. Ia lalu memberikan kami beberapa kontak di pedalaman Mentawai.
Ada misi nerusin tato ya di Mentawai?
Kepergian kami sampai ke pedalaman bermodalkan mesin tato, kamera saku dan handycam kecil biasa. Kami juga membawa penerjemah, yaitu seorang mahasiswa antropologi semester akhir. Pandu namanya. Ketika kami sampai di sana, kami menemukan ‘asal’ yang tidak kami bayangkan sebelumnya: jumlah sipatiti—ahli tato mentawai—sudah sangat sedikit. Kalaupun masih ada, mata mereka sudah rabun dan mereka sudah lama tidak membuat tato. Tidak ada regenerasi.
Persoalan ini bermulai ketika awal tahun 1970-an Undang-Undang tentang Desa diterapkan. Seluruh desa di pedalaman hendak disamakan dengan desa-desa di Jawa, dipimpin oleh kepala desa dan memiliki sistem administrasi yang modern. Masalahnya, konsep tadi adalah hal baru bagi masyarakat pedalaman.
Sejak lama masyarakat pedalaman diperintah secara adat. Ada ketua adat, ada fungsi hakim, pemimpin agama tradisional, dan sebagainya. Itu semua hendak dihilangkan. Bersamaan itu dihilangkan pula tradisi-tradisi seperti Arat Sabulungan di Mentawai, dan Sipelebegu di suku batak, sebelum Kristen masuk. Orang-orang ini disuruh dan dipaksa memilih salah satu agama yang diakui negara.
Berbarengan dengan itu, tradisi tato pun dipaksa untuk ditinggalkan. Era tahun 1980-an kriminalisiasi tato merebak di Jawa. Tato diidentikkan dengan premanisme yang saat itu sulit dikontrol. Orang yang bertato dianggap sebagai penjahat. Di Mentawai tato sebenarnya juga menjadi identitas. Orang yang masih mempraktekkan tradisi tato ini dianggap masih menganut kepercayaan leluhur, dan oleh karenanya mereka dianggap belum beradab.
Intinya semua orang harus modern. Mereka dipaksa memilih salah satu agama. Aku berpikir hal ini membunuh akar budaya mereka. Harusnya kan kesadaran itu muncul dari pikiran mereka sendiri. Pendekatan yang dilakukan negara sama seperti yang dilakukan oleh pemerintah kolonial. Itulah mengapa jumlah sipatiti makin sedikit. Banyak tato menjadi tidak selesai.
Nah, ketika kami ke sana, kami mengajak mereka untuk berkolaborasi. Selain kami bisa mengerti desain tato mereka, kami juga mencoba memahami makna motif-motif yang ada pada tubuh mereka. Kami menawarkan kepada mereka untuk mengerjakan tato-tato yang tidak selesai itu bareng-bareng. Itulah yang kami lakukan sebenarnya. Jadi pekerjaan kami bukan membuat film. Dalam proses selanjutnya, berkali-kali kami datang ke sana, terutama Durga yang lebih intens dibandingkan saya.
lalu membuka studio. Ada kumpulan foto dan juga motif-motif tato. Muncul pertanyaan terhadap bahan-bahan itu: akan kami apakan semua itu? Akhirnya, muncullah ide untuk membuat video dokumenter itu. Video itupun kami buat dengan metode yang sama sekali berbeda dengan orang-orang film pada umumnya. Kami tidak punya basic di situ, tidak pernah belajar apalagi sekolah film. Hanya karena ada ketertarikan pada audio visual saja.
Ada motivasi personal sendiri, secara pribadi?
Alasan kenapa akhirnya terlibat dengan Durga dan menamakan tim ini Mentawai Tattoo Revival Project, karena proyek ini akan masih berlangsung terus di wilayah-wilayah lain. Saya gila tato dan saya menganggap tato itu politik. Beda maknanya dengan tato dalam masyarakat tradisional karena saya tidak lahir dari satu tradisi tato tertentu. Bagi saya tato itu seperti politik. Tato adalah sikap politik atas kekuasaan penuh atas tubuh saya.
Motif tato modern kan dalam perkembangannya lebih merujuk pada artistik atau statement pribadi dengan simbol-simbol yang sangat eksklusif. Tapi tato tradisional simbolnya sama semua. Tato menjadi identitas kolektif. Tatoku sama dengan tato orang itu jika kami datang dari suku yang sama, dari Mentawai misalnya.
Perbedaannya, di sana belum terbentuk kelas-kelas dalam masyarakat. Mereka hanya dibedakan dengan fungsi-fungsi yang bisa mereka lakukan. Misalnya aku jago berburu, maka ada motif-motif khusus yang aku miliki, yaitu hasil buruanku, seperti kera atau hewan lainnya. Tapi secara umumnya tatonya sama semua.
Aku kan tidak seperti itu karena aku tidak lahir dari tradisi semacam itu. Aku lebih concern pada semangat revitalisasi dari satu tradisi yang sekarang terancam punah, misalnya di Papua. Aku merasa dekat dengan Papua. Aku berapa kali ke sana. Aku tertarik bagaimana satu kebudayaan yang sepenuhnya bagian dari Indonesia, membuatnya menjadi beragam dan kaya itu dihilangkan lewat cara-cara yang tadi aku bilang.
Aku mengambil motif tato mereka, aku tato di mukaku. Di tanah leluhurku sendiri, yang telah mengalami Kristenisasi dan Islamisasi, tradisi animismenya juga hilang. Yang tertinggal hanya simbol-simbol dan artefak-artefak yang kemudian aku jadikan motif tato.
Proses masuk ke Mentawai bagaimana? Dengan kendala bahasa dan lainnya?
Sebenarnya kami tidak menemukan banyak kesulitan. Kami ‘menemukan’ seorang anak Mentawai untuk menjadi translator bagi kami. Kesulitannya adalah perjalanan yang panjang: 12 jam di laut, dilanjutkan delapan jam menuju hulu sungai, dan kemudian berjalan selama dua hari ke pedalaman. Itu kendalanya. Juga tentunya kendala finansial. Kami berangkat dengan kocek pribadi.
Keuntungannya adalah kami bertato. Jadi ketika kami datang, mereka merasa ada kedekatan dengan kami, meskipun tato kami beda dengan milik mereka. Jadi tanpa harus bicara dalam bahasa mereka pun, kami sudah akrab dengan mereka. Bukan berarti tidak ada jarak. Ya, kami adalah pendatang. Tentu ada jarak tapi jarak itu berkurang karena penampilan kami, dengan kesukaan kami terhadap tato. Dan teman penerjemah kami ini membantu sekali.
Sebenarnya beberapa sikerei bisa dan paham berbahasa Indonesia. Sikerei adalah tetua adat Mentawai. Ia dapat berinteraksi dengan pendatang—dari Medan dan terutama dari daerah Minang—yang mulai mendominasi di sana. Kan Minang bahasanya Melayu, mirip dengan bahasa Indonesia, jadi lama-kelamaan mereka paham. Tidak terlalu banyak kendala sebenarnya.
Pembuatan tatonya bagaimana? Bahan-bahannya? Yang membedakan dengan tato modern?
Perbedaannya dengan tato modern adalah fungsi sosialnya. Praktiknya juga jelas berbeda. Tato modern menggunakan mesin, yang merupakan hasil produksi budaya modern. Sementara tradisi tato di Mentawai, misalnya, menggunakan alat yang sangat tradisional. Pake kayu yang di ujungnya itu ditancapkan jarum. Tapi itu sekarang, dulu bukan jarum tapi duri dari pohon jeruk. Alat tadi lalu diketok-ketokkan secara manual ke badan untuk memasukkan tinta. Tintanya juga mereka buat secara tradisional dari daun-daun pohon, jelaga dan air tebu.
Berapa lama warnanya menempel?
Sama dengan tinta modern. Cuma memang secara kualitas lebih bagus tinta modern karena sudah ada ukuran-ukuran yang sangat sensitif di sana. Sementara mereka kan membuatnya dengan sangat tradisioal dan cara memasukkannya pun sebenarnya acak. Kalau mesin tato bisa dia lebih rapi. Itu teknik tato di Mentawai dan di Dayak.
Tapi bukan berarti tato tradisional itu tidak rapi. Di Jepang dan Thailand, tato tradisionalnya sangat rapi. Itu dikarenakan penggunaan jarum yang panjang. Mirip bambu runcing. Kesannya sih sakit tapi sebenarnya nggak. Bagi beberapa orang mesin lebih menyakitkan. Kalau mesin kan merobek-robek, jadi memang lebih sakit.
Tato tradisional kesannya saja yang horor. Steril dan tidak steril itu kan kita liat secara sederhana dari kacamata medis. Tapi sesungguhnya mereka juga punya ramuan-ramuan tradisional yang tidak punya. Mereka punya ilmu pengetahuan sendiri tentang tumbuhan-tumbuhan. Ya, steril juga sebenarnya. Jadi itulah kenapa belum pernah ada kasus orang Mentawai yang ditato kemudian mati karena tetanus. Hal ini sudah turun-temurun dan kini nyaris punah.
Beberapa waktu lalu, Abang di twitter pernah membahas kaitan antara orang bertato dan beragama. Pandangan Abang sebenarnya gimana?
Saya tidak tahu hadist dalam Islam. Nggak paham. Tapi banyak temen-temenku yang Muslim yang rajin sholat meskipun dia bertato. Aku pikir itu tidak masalah. Ayat itu kan multitafsir. Bisa ditafsirkan seperti pandangan FPI (Front Pembela Islam), bisa ditafsirkan seperti Islam Liberal, dan bisa juga seperti Ahmadiyah. Itu namanya tafsir. Aku pikir semua orang sah melakukan tafsir. Asalkan tidak memaksakan kebenaran tunggal.
Tidak ada agama yang secara spesifik melarang orang nato. Jadi kenapa tato dipermasalahkan dan dibenturkan dengan keyakinan agama? Ini yang tidak benar. Kesan tato sebagai warisan dari agama kepercayaan leluhur membuat orang menganggap tato sebagai bagian dari tradisi kafir, dari orang-orang sebelum beragama. Padahal orang tidak pernah bermasalah dengan tato alis, bibir, dan sebagainya. Kenapa kita memotong rambut dan kuku kita? Itu kan juga rahmat Tuhan.
Ada rencana lagi bikin tato dari daerah lain? Mendokumentasikan?
Ya, kami memang ingin pergi ke Dayak. Di Belu ada satu cerita yang sangat menarik. Tradisi tato di sana juga sudah mulai hilang. Pulau Timor itu kan pulau pertama yang berhasil dikatholikkan oleh orang-orang Portugis. Seperti Flores, wilayah Nusa Tenggara Timur itu tradisi tatonya sudah hilang.
Uniknya, tahun 1940-an Jepang mengambil perempuan-perempuan setempat untuk dijadikan budak seks (jugun ianfu). Dalam tradisi orang Timor, di Belu misalnya, tato untuk perempuan adalah tato inisial, terutama ketika dia sudah bersuami. Jadi banyak perempuan muda yang bersuami ketika itu menato tubuhnya untuk menghindar menjadi jugun ianfu. Jadi tato bagi mereka adalah sebuah gerakan politik untuk menentang perbudakan itu. Itulah makanya di sana dapat kita temukan nenek-nenek yang bertato. Tapi tidak ada kakek-kakek yang bertato karena laki-laki waktu itu tidak dijadikan budak seks. Jadi urusannya tidak melulu tradisi, tapu juga pergerakan.
Pertanyaan yang agak melenceng. Abang ternyata suka masak. Seorang pria dengan banyak tato ternyata senang ke dapur yang notabene adalah aktivitas feminim.
Dari kecil ibuku mengajari aku memasak. Ayahku juga bisa masak. Itu hal yang biasa dalam tradisi kami, orang Batak. Perempuan Batak lebih perkasa daripada laki-laki.
Jadi, misalnya ibuku jam enam pagi sudah berangkat ke sawah. Sebelum jam enam itu, ibuku sudah menyiapkan bermacam-macam makanan, untuk nanti kita bawa ke sekolah. Setelah itu ibu pergi ke sawah. Dia pulang jam enam sore sementara ayah biasanya jam empat sore udah pulang. Udah nongkrong di warung kopi, main catur dan segala macam. Ibu masih di sawah. Kalau menunggu ibu balik, nanti kita nggak makan. Nah, jadi ayah yang masak.
Kalo ayah tidak masak, misalnya karena ia mancing, anak-anaklah yang masak. Karena di keluargaku tidak banyak perempuan dan masih ada adik-adik yang lebih kecil, jadi akulah yang masak. Ketika aku SMP pun aku dikirim ke sekolah dari rumah dengan bekalku bahan-bahan mentah, kayak beras, dan sebagainya. Jadi harus masak sendiri. Mandiri. Di warung mahal.
Comment: salut buat pemikiran dan karya-karya anda. Semoga tattoo semakin bermartabat! *Cheerrrrssss